Pascasarjana Gelar Studium General Bersama Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

images-2

Menjelang pembukaan perkuliahan semester genap tahun akademik 2011-2012, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Studium General bertajuk “Penguatan Metodologi Penelitian pada Masing-masing Program Studi Program Pascasrjana UIN SGD Bandung dan Kontribusinya bagi Pembangunan Bangsa” bersama Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI yang diikuti oleh seluruh mahasiswa Pasca (S2 dan S3) dan dibuka secara resmi oleh Rektor UIN SGD Bandung atas nama, Prof. Dr. H. Afifuddin, M.M, Pembantu Rektor I Bidang Akademik di ruang Sidang Al-Jamiah, Selasa (28/2)

Menurut M. Anton Athoillah, Asisten Direktur I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menjelaskan dalam sambutanya, kegiatan ini sebagai upaya membangun peradaban Islam. “Peradaban Islam adalah peradaban Ilmu, karena itu dapat ditegaskan bahwa salah satu mukjizat Muhammad adalah kemampuanya mengajarkan iman yang menggerakkan orang per orang mencintai dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Para sasahabat Nabi, tabi’in dan generasi setelah itu menunjukkan gairah keilmuan yang luar biasa. Mereka bahkan rela menempuh perjalanan panjang, melintasi antar kota yang dipisahkan padang pasir yang ganas misalnya hanya untuk memastikan kesahihan satu hadits saja” tegasnya.

Dari mana datangnya etos mencintai kebenaran itu? “Asal dari etos mencintai kebenaran itu adalah keyakinan bahwa proses pewahyuan merupakan proses penyingkapan kebenaran yang tersembunyi oleh kebodohan manusia. Al-Farabi (870-950) filusuf muslim yang bergelar al-muallim al-tsani mengemukakan salah satu argumennya, wahyu sebagai sumber pewahyuan tertinggi bagi manusia secara potensial dapat diraih oleh seluruh umat manusia jika mereka memenuhi syarat-syarat untuk menerimanya,”jelasnya.

Para sarjana muslim ketika itu memeiliki berbagai buku dan manuskrip kuno dari Persia, China, India, Mesir, Assyria, dan Yunanai-Romawi mereka telaah, kritik, kembangkan melalui sintesis dan proses kreatif yang melahirkan tradisi dan etos keilmuan baru, “Sains dan peradaban baru. Mengenai hal ini Cak Nur mencatat Sifat terbuka umat islam klasik adalah wujud historis yang nyata, mereka bersedia belajar dari siapa saja dengan jalan mau mendengarkan orang lain dan mengikuti mana yang terbaik melalui proses penalaran rasional. Sikap terbuka ini menjadi sumber kekayaan dan pengayaan umat Islam secara kultur dan intelektual,” tambahnya.

Umat Islam klasik telah mengambangkan apa yang sekarang sedang direbutkan dunia Pendidikan Tinggi, yakni penulisan jurnal. “Inti penulisan jurnal adalah penelitian, kejujuran dan kritisisme. Ketiga etos ilmiah ini konon sudah dikembangkan ilmuwan islam klasik,”ujarnya.

“Maka penulisan jurnal dalam banyak aspek sebenarnya mengembalikan kita, para pelajar muslim pada tradisi peradaban Islam. Melalui cara ini mudah-mudahan kita bisa membangkitkan kembali gairah keilmuan di kalangan umat Islam,”harapannya.

Program Pascasarjana UIN SGD Bandung sangat menginginkan kembalinya gairah seperti itu. “Walapun masih banyak hambatan dan masalah. Namun, kita harus percaya bahwa dengan kesabaran dan pergerakan penuh keimanan, gairah keilmuan dan iklim akademik akan segera tumbuh di PPs UIN SGD Bandung.”

Bagi Dirjen Diktis tersebut, upaya meningkatkan kualitas akademik dan diakui oleh orang lain “Harus giat membuka networking akademik untuk meningkatkan kualitas akademik supaya diakui oleh orang lain,” sarannya.

Salah satu caranya dengan sering melakukan penelitian, dipublikasikan dan mempatenkannya,”Ranah penelitian kita terletak pada wilayah; Pertama, Ilmu Agama. Kedua, Ekonomi Syariah, Persyaratan teori sekuler. Ketiga, Integrasi antara sains dengan agama. Untuk itu, penelitianya pada wilayah bumi dan teknologi,”jelasnya.

Usaha membiasakan penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal, “Kami akan mendampingi pembuatan 10 jurnal Internasional sampai terbit. Jika tempo dulu hanya menyelenggarakan kegiatan dan segala urusan teknis diserahkan kepada peserta. Apakah pembuatan jurnal itu terlaksana atau tidak, tapi sekarang tidak. Segala urusan sampai ke penerbitan akan didampingi kami,” tegasnya.

Kita ketahui secara bersama lembaga penelitian di Indonesia ada tiga; “Pertama, Perguruan Tinggi yang harus melahirkan teori-teori. Kedua, Litbang di setiap kementerian yang harus melahirkan kebijakan. Ketiga, Penelitian di non kementerian seperti LIPI yang harus melahirkan teknologi dengan metode yang unik.”

Menyinggung soal Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 bertanggal 27 Januari 2012 yang mewajibkan setiap mahasiswa S1, S2, dan S3 membuat dan mempublikasikan karya ilmiahnya melalui jurnal ilmiah. Untuk S1 di jurnal ilmiah kampus setempat, S2 di jurnal nasional yang teakreditasi, dan S3 di jurnal internasional.

Ia berpesan, “Untuk Doktor, Profesor rajinlah mengajar, menulis, meneliti dan mempublikasikan karya baik secara fisik maupun virtual melalui jurnal online karena itu semua merupakan tugas utama” pungkasnya.*** [Ibn Ghifarie, Dudi]

Oleh: redaksi